Jenis dan sumber kompos

Haii para sahabat organik,
Kali ini MSG 3 akan menjelaskan mengenai jenis dan sumber untuk pembuatan kompos, langsung saja yaa ..

Bahan organik yang dapat digunakan sebagai sumber pupuk organik dapat berasal dari limbah atau hasil pertanian dan non-pertanian (Limbah kota dan limbah industri). Dari hasil pertanian seperti sisa tanaman, sisa hasil pertanian (sekam padi, kulit kacang, ampas tahu dan belotong), pupuk kandang (kotoran sapi, kerbau, itik, ayam dan kelelawar). dan pupuk hijau. Limbah kota atau sampah organik kota biasanya dikumpulkan dari pasar-pasar atau sampah rumah tangga dari daerah pemukiman serta taman-taman kota. Limbah industri yang dapat dimanfaatk sebagai pupuk organik antara lain limbah industri pangan.
Berbeagai bahan organik tersebu dapat dijadikan pupuk organik melalui teknologi pengomposan sederhana maupun dengan penambahan mikroba peromba serta pengkayaan dengan unsur hara lain. Pupuk organik yang berasal dari pupuk kandang merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dibanding bahan pembenah lainnya. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik membantu dalam mencegah terjadinya retakan tanah. Pemberian bahan organik mampu meningkatkan kelembaban tanah dan memperbaiki polaritas tanah.
Berikut adalah bahan-bahan yang dapat dijadikan kompos :

1. Sisa Tanaman
Ilustrasi dari Google

Kandungan hara beberapa tanaman pertanian ternyata cukup tinggi dan bermanfaat sebagai sumber energi utama mikroorganisme di dalam tanah. Apabila digunakan sebagai mulsa, maka ia akan mengontrol kehilangan air melalui evaporasi dari permukaan tanah, dan pada saat yang sama dapat mencegah erosi tanah. Hara dalam tanaman dapat dimanfaatkan setelah tanaman mengalami dekomposisi. Kandungan haranya sangat bervariasi tergantung jenis tanaman. Rasio C/N sisa tanaman bervariasi dari 80:1 pada jerami gandum hingga 20:1 pada tanaman legum. Selama proses dekomposisi ini nilai rasia C/N akan menurun mendekati 10:1 pada saat tersebut tercampur dengan tanah.

Tabel Komposisi Hara Pada Tanaman
Tanaman
N
P
K
Ca
Mg
Fe
Cu
Zn
Mn
B
%
%
%
%
%
mg kg-1
mg kg-1
mg kg-1
mg kg-1
mg kg-1
Gandum
2,80
0,36
2,26
0,61
0,58
155
28
45
108
23
Jagung
2,97
0,30
2,39
0,41
0,16
132
12
21
117
17
Kc. Tanah
4,59
0,25
2,03
1,24
0,37
198
23
27
170
28
Kedelai
5,55
0,34
2,41
0,88
0,37
190
11
41
143
39
Kentang
3,25
0,20
7,50
0,43
0,20
165
19
65
160
28
Ubi Jalar
3,76
0,38
4,01
0,78
0,68
126
26
40
86
53
sumber : MSG3

2. Kotoran Hewan
Ilustrasi dari Google

Kotoran hewan yang berasal dari usaha pertanian antara lain adalah kotoran ayam, sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan sebagainya. Komposisi hara pada masing-masing kotoran hewan berbeda tergantung pada jumlah dan jenis makanannya. Secara umum, kandungan hara dalam kotoran hewan jauh lebih rendah daripada pupuk kimiah sehingga takaran penggunaanya juga akan lebih tinggi.
Namun demikian, hara dalam kotoran hewan ini ketersediaanya lambat sehingga tidak mudah hilang. Ketersediaan hara sangat dipengaruhi oleh tingkat dekomposisi/mineralisai dari bahan-bahan tersebut. Rendahnya ketersediaan hara dari pupuk kandang antara lain disebabkan karena bentuk N, P, serta unsur lain terdapat dalam bentuk senyawa kompleks organik protein atau senyawa asam humat atau lignin yang sulit terdekomposisi. Selai mengandung hara bermanfaat, pupuk kandang juga mengandung bakteri saprolitik, pembawa penyakit dan parasit mikoorganisme yang dapat mebahayakan hewan dan manusia. Contohnya kotoran ayam mengandung Salmonella sp. Oleh karena itu dalam pengolahannya harus hati-hati .

Tabel kandungan Hara Beberapa Jenis Kotoran Hewan
Sumber
N
P
K
Ca
Mg
S
Fe
%
%
%
%
%
%
%
Sapi pertah
0,53
0,35
0,41
0,28
0,11
0,05
0,004
Sapi pedaging
0,65
0,15
0,30
0,12
0,10
0,09
0,004
Kuda
0,70
0,10
0,58
0,79
0,14
0,07
0,01
Unggas
1,50
0,77
0,89
0,30
0,88
0,00
0,100
Domba
1,28
0,19
0,93
0,59
0,19
0,09
0,020

3. Sampah Kota
Ilustrasi dari Google

Sampah (waste) didefinisikan sebagai bahan-bahan yang sudah tidak dapat digunakan dan tidak bermanfaat sehingga disebut bahan buangan.
Menurut sumbernya, sampah dibagi menjadi sampah domestik/kota dan sampah industri. Berdasarkan data di berbagai tempat, sampah kota relatif kurang tertangani dibandingkan sampah bahan lainnya. Hal ini terjadi karean bahan tersebut banyak terkontaminasi B3 (bahan beracun berbahaya), seperti logam berat sehingga apabila dimanfaatkan sebagai kompos untuk tanaman pangan dapat mencemari hasil tanaman tersebut. Tertimbunnya sampah domestik dalam waktu lama akan mengandung resiko penurunan kualitas sanitasi, keindahan lingkungan serta berjangkitnya penyakit tertentu.
Di beberapa kota besar di Indonesia, masalah sampah kota banyak menjadi sorotan seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan perbaikan kualitas hidup masyarakatnya. Hasil buangan sampah rumah tangga, fasilitas umum, pasar dan sebagainya sudah sangat mengkhawatirkan dan mengganggu kenyamanan dan kebersihan lingkungan bila tidak ditangani secara baik. Salah satu kendala pemanfaatan sampah kota adalah kurang praktisnya pemakaian secara langsung dan memerlukan biaya relatif tinggi untuk pendistribusiannya dilapangan.
Menurut jenis dan asalnya sampah domestik dibedakan menjadi sampah kertas, plastik, kaca, karet dan logam yang biasanya dimanfaatkan oleh pemulung untuk didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat. Sedangkan sampah organik yang proporsinya jauh lebih besar daripada sampah anorgank biasanya tertimbun tanpa ada yang dimanfaatkan. Sampah organik terdiri dari sisa sayuran, tanaman dan sisa makanan yang mengandung karbon (C) berupa senyawa sederhana maupun kompleks. Selulosa merupajan salah satu senyawa kompleks yang memerlukan proses dekomposisi relatif lama namun dapat dipecah oleh enzim selulosa yang dihasilkan oleh bakteri menjadi senyawa monsakarida, alkohol, CO2 dan asam-asam organik.

4. Vermikompos
Ilustrasi dari Google

Vermikompos disebut juga kompos cacing, vermicast atau pupuk kotoran cacing, yang merupakan hasil akhir dari penguraian bahan organik oleh jenis-jenis cacing tertentu. Vermikompos merupakan bahan yang kaya hara, dapat digunakan sebagai pupuk alami atau soil conditioner (pembenah tanah). Proses pembuatan vemikompos disebut vermikomposting.
Cacing yang digunakan dalam proses pembuatan vermikompos diantaranya brandling-worms (Eisenia foetida) dan redworms (Cacing merah) (Lumbricus rubellus). Cacing-cacing ini jarang ditemukan di dalam tanah, dan dapat menyesuaikan dengan kondisi tertentu di dalam pergiliran tanaman. Di luar negeri bibit cacing cacing telah diperjualbelikan di toko-toko pertanian. Vermikomposting dalam skala kecil dapat mendaur ulang sampah dapur menjadi vemikompos yang berkualitas dengan menggunakan ruang terbatas.

Itulah beberapa contoh bahan yang dapat digunakan untuk dijadikan kompos, semoga bisa bermanfaat untuk para pembaca sekalian.
Terima kasih sudah berkunjung di website MSG3 , terus ikut kami karena kami akan terus update informasi mengenai pertanian yang ada di Indonesia.

Baca Juga  :












Previous
Next Post »