Garam langka , Haruskah impor ?


Gambar sumber google

Garam merupakan bahan baku hampir untuk semua masakan yang ada di Indonesia, namun sekarang keberadaannya sedang mengkhawatirkan karena hampir di seluruh daerah mengalami kelangkaan Garam. Menurut pedangang di pasar yang menjual Garam kelangkaan sudah hampir satu bulan , "Dulu harga cuma Rp. 1.000 per bungkus namun sekarang Rp 3.000 bahkan ada pedagang yang menjual sampai Rp. 5.000 per bungkus". Menurut pedagang kelangkaan garam pun belum diketahui penyebab pastinya.

Kelangkaan garam ini baru terjadi, sebelumnya belum pernah terjadi . Hampir di seluruh nusantara stok garam menipis. Kita juga tidak bisa menyalahkan produsen garam karena dari pihak produsen sudah berusaha maksimal untuk menyuplai pasokan garam ke pedagang. Menurut petani garam merasa senang karena harga garam tinggi sehingga penghasilan yang di dapat bisa naik 6 kali lipat, namun hal tersebut tidak didukung dengan produksi yang berlimpah. Saat ini petani hanya mampu panens sebanyak 2 kuintal dalam satu hektar, yang biasanya bisa mendapat 2 ton. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di beberapa wilayah penghasil garam.

Kebijakan dari pemerintah untuk impor garam sebanyak 75.000 ton dari Australia akan dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar di Indonesia, namun kebijakan ini belum resmi masih dalam proses persetujuan jokowi. Menurut MSG 3 kebijakan impor garam terlalu buru-buru karena seharusnya negara kita negara dengan garis pantai terpanjang di dunia dan sudah seharusnya bisa memenuhi kebutuhan garam di negera kita dan seharusnya pula bisa untuk ekspor. Namun keterbatasan teknologi dari petani di Indonesia sehingga dalam menghasilkan garam masih bergantung dengan panas matahari untuk mengeringkan garm. Pemerintah seharusnya mencari solusi untuk meningkatkan produksi garam dalam negeri bukan langsung memutuskan untuk impor garam.

Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 99.093 kilometer namun hanya beberapa yang bisa dijadikan lokasi tambak. Lahan yang cocok untuk tambak hanya sekitar 26.024 hektar menurut sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia. Dengan pantai sepanjang itu Indonesia pun belum memanfaatkannya sampai 50%, hal ini dipengaruhi oleh teknologi dari Indonesia sendiri yang belum mampu untuk menguasai seluruh pantai penghasil garam.


Sumber google

Petani garam sendiri semakin tahun semakin menurun, pada tahun 2012 sebanyak 30.668 jiwa dan menjadi 21.050 pada tahun 2016, artinya ada 8.400 petani garam yang beralih profesi. Hal ini terjadi sudah sejak lama karena hasil yang didapatkan petani tidak terlalu besar dibandingkan kerja yang sudah dilakukan, sama halnya dengan komoditas pertanian lainnya seperti bawang , pada garam sendiri pun terlalu banyak rantai pemasaran sehingga hasi yang dinikmati petani sedikit namun harga di pasaran tinggi. Seharusnya ada campur tangan pemerintah dalam mengendalikan harga dengan cara pemberian teknologi dan pemotongan rantai pemasaran bukan hanya mengandalkan impor. Impor hanya solusi jangka pendek karena yang dibutuhkan petani garam itu adalah solusi jangka panjang.
Bagaimana pendapat pembaca sekalian mengenai fenomena tersebut ?

Semoga bermanfaat.

Terima kasih.


MSG 3

Previous
Next Post »