MANFAAT PESTISIDA ORGANIK │ Maulana Says Green 3

Pengertian Pestisida Organik

Pestisida organik adalah pestisida yang bahan aktifnya menggunakan bahan alami dari alam, seperti tumbuhan, hewan, bakteri, dan bahan tambang mineral. Pestisida organik ini tidak meninggalkan residu yang berbahaya sehingga aman untuk lingkungan.

Pestisida organik bersifat “pukul dan lari” (hit and run), saat diaplikasikan,  akan membunuh hama saat itu juga dan setelah hamanya mati, residunya akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisda  sehingga aman dikonsumsi manusia. 

Pestisida organik menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibanding pestisida sintetis. Penggunaan pestisida organik memberikan keuntungan ganda, selain menghasilkan produk yang aman, lingkungan juga tidak tercemar.

Pestisida organik ini mampu mengatasi dan mengusir hama perusak tanaman pertanian dan perkebunan umumnya seperti kutu, ulat, belalang dan sebagainya.

Manfaat dan Keunggulan Pestisida Organik

Beberapa manfaat dan keunggulan pestisida organik, antara lain:
1. Mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan (ramah lingkungan).
2. Relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang.
3. Dapat membunuh hama/penyakit seperti ekstrak dari daun pepaya, tembakau, biji mahoni, dsb.
4. Dapat sebagai pengumpul atau perangkap hama tanaman: tanaman orok-orok, kotoran ayam.
5. Bahan yang digunakan nilainya murah serta tidak sulit dijumpai dari sumberdaya yang ada di sekitar dan bisa dibuat sendiri.
6. Mengatasi kesulitan ketersediaan dan mahalnya harga obat-obatan pertanian khususnya pestisida sintetis/kimiawi.
7. Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Penggunaan dalam dosis tinggi sekalipun, tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati.
8. Tidak menimbulkan kekebalan pada serangga.


Baca juga :  


Tanaman yang dapat digunakan untuk membuat Pestisida Organik

Beberapa Jenis Tanaman Bahan Pestisida Organik / Pestisida Nabati, Kandungan Kimia dan Efeknya

1. Bawang Merah (Allium cepa)
Kandungan kimia yang terdapat pada bawang merah antara lain minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, lavonglikosida, saponin, peptida, fitohormon, kuersetin. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai pestisida organik adalah umbi. Ekstrak bawang merah bekerja sebagai penolak hama (repellent) dan pengendali serangga.

2. Bawang putih (Allium sativum L)
Bawang putih mengandung beberapa senyawa kimia, antara lain tanin, minyak atsiri, dialilsulfi da, aliin, alisin, enzim aliinase. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai pestisida alami adalah seluruh bagian tanaman, yaitu umbi, daun dan bunga. 

Bawang putih bekerja sebagai penolak hama (repellent) dan bersifat sebagai insektisida, nematisida, fungisida dan antibiotik.

3. Cengkeh (Syzygium aromaticum)
Cengkeh mengandung beberapa senyawa kimia, yaitu eugenol, eugenol asetat, kariofilen, sesquiterpenol dan naftalen. Bagian tanaman yang digunakan sebagai bio pestisida adalah bunga, tangkai bunga dan daun. Ekstrak cengkeh bersifat sebagai fungisida, mengakibatkan kemandulan hama dan menghambat aktifitas makan (antifeedant)

4. Tembakau (Nicotiana tabacum L.)
Bagian tanaman tembakau yang baik untuk digunakan sebagai pengendali hama ataupun penyakit adalah daun dan batangnya, karena bagian ini memiliki kandungan nikotin yang tinggi, terutama pada tangkai dan tulang daun. Ekstrak tembakau bersifat sebagai insektisida, fungisida, akarisida.

5. Kunyit (kunir/turmeric) (Curcuma domestica Val. Curcuma longa koenin)
Bagian tananaman yang digunakan sebagai pestisida organik adalah rimpang. Rhizome (batang dalam tanah) kunyit dapat digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan serangga hama ataupun sebagai fungisida untuk mengendalikan jamur yang merusak tanaman.

6. Lidah buaya (Aloe barbadensis Milleer)
Senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman lidah buaya antara lain saponin, flavonoida, polifenol dan tanin. Bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pestisida nabati adalah daging daun. Ekstrak lidah buaya bersifat sebagai insektisida, bakterisida, dan fungisida. Selain itu lidah buaya dapat digunakan sebagai perekat alami/perata dalam aplikasi pestisida.

7. Sirih (Piper betle Linn.)
Senyawa yang terkandung dalam sirih antara lain minyak atsiri (eugenol, methyl eugenol, karvakrol, kavikol, alil katekol, kavibetol, sineol, estragol), karoten, tiamin, riboflavin, asam nikotinat, vitamin C, tanin, gula, pati, dan asam amino Bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pembuatan pesnab adalah daun. Ekstrak daun sirih bersifat sebagai insektisida.

8. Jahe (Zingiber offcinale)
Jahe mengandung minyak atsiri 1-3%, konstituent utama sesquiterpene, zingiberene C15H24. Bau tajam pada jahe adalah zingerone C11H14O3 yang ada dalam oleoresin. Bagian tanaman jahe yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama penyakit tanaman adalah rhizomenya. Rhizome jahe dapat digunakan sebagai penolak hama, nematicida, dan fungisida

9. Mimba (Azadirachta indica A. Juss)
Senyawa kimia yang terdapat pada tanaman mimba antara lain azadirachtin, meliantriol, salannin, dan nimbin, di mana kandungan bahan aktif tertinggi terdapat pada bagian biji. Ekstrak biji mimba dapat digunakan sebagai insektisida, bakterisida, fungisida, akarisida, nematisida dan virusida.

Pestisida yang dibuat dari ekstrak biji mimba dapat memengaruhi reproduksi dan perilaku, dapat berperan sebagai penolak, penarik, antifeedant, dan menghambat perkembangan serangga, baik sebagai racun perut maupun racun kontak.

10. Pacar cina (Aglaia odorata Lour.)
Senyawa kimia yang terdapat pada tanaman pacar cina antara lain alkaloida, saponin, flavonoida, tanin, serta minyak atsiri. Pada daun pacar cina selain rokaglamida juga ditemukan dan tiga senyawa turunannya, yaitu desmetil-rokaglamida, metil rokaglat dan rokaglaol. 

Bagian tanaman yang digunakan sebagai pesnab adalah daunnya. Ekstrak daun pacar cina bersifat sebagai insektisida, antifeedant (penghambat makan) dan growth regulator (penghambat perkembangan serangga)

Previous
Next Post »