PESTISIDA ORGANIK- PESTISIDA NABATI-BIO PESTISIDA MSG 3 - PESITISIDA 5 in 1 (Untuk Serangga Virus Jamur Bakteri Nematoda)




Pestisida Organik MSG 3 merupakan pestisida yang dibuat dari ekstrak berbagai macam tumbuhan seperti cengkeh, serai, minyak atsiri, tanaman neem ,zpt alami dll. Pestisida dibuat dari 100% bahan organik sehingga aman untuk lingkungan dan tidak meninggalkan residu. 

Hama serangga : Berbagai macam Ulat, Tungau, Penggerek Batang,Penggerek buah, orong-orong, Lalat buah, Kumbang, Walang sangit, Aphids, Thrips, Rayap, Berbagai macam Kutu, telur hama, Belalang, Tungro, Wereng dan Hama lainnya.
Virus, Bakteri dan Jamur : Bercak daun, Bercak ungu, Busuk lunak, Akar gada, Virus gemini, Bulai, Fusarium, Kresek, Patek, Phytophthora dan berbagai jenis virus, bakteri serta jamur. 

Keunggulan pestisida organik MSG 3:
1. Mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan (ramah lingkungan).
2. Bersifat sistematik dan kontak
3. Dapat membunuh hama tanaman
4. Aman bagi manusia karena tidak meninggalkan residu
5. Menggunakan 100 % bahan organik
6. Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Penggunaan dalam dosis tinggi sekalipun, tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati.
7. Tidak menimbulkan kekebalan pada serangga.
Waktu dan cara penyemprotan :
- 1-2 minggu sekali atau saat terserang hama
- Lakukan penyemprotan pada daun, batang bagian bawah, dan media tanam.

Cara penggunaan pestisida organik MSG 3 :

1.Kocok terlebih dahulu botol pestisida organik MSG 3
2.Pencegahan : 70 ml- 100 ml Pestisida organik MSG 3dicampur 14-16 liter air, digunakan untuk lahan seluas +/- 500 m2.
Penanggulangan : 120ml - 150ml Pestisida organik MSG 3 dicampur 14-16 Lt air, digunakan untuk lahan seluas +/- 500 m2.
Dosis umum : 2 - 3 liter / ha / musim tanam.
Dosis khusus / intensif : 3 - 4 liter / ha / musim tanam.
Untuk sterilisasi lahan : 500ml per tangki
3.Apabila pestisida organik MSG 3 belum tercampur secara merata maka tambahkan sedikit sabun cair. *Apabila sudah tercampur secara merata maka tidak perlu penambahan sabun cair
4.Lakukan penyemprotan pada pagi hari (Sebelum pukul 08.00) atau sore hari (Setelah pukul 16.00).





Bekerja efektif sebagai :
Repellent : Menolak serangga
Antifeedant : Penghambat nafsu makan
Oviposition deterrent : Penghambat peneluran
IGR (Insect Growth Regulator) : Penghambat perkembangan hama
Toxic : Racun serangga
Pestisida 5 in 1
Serangga
Virus
Jamur
Bakteri
Nematoda




Mengandung zat azadirachtin, yang merupakan insektisida yang sangat aktif, telah digunakan secara luas dan terbukti dapat mengatsi lebih dari 500 jenis hama. Zat azadirachtin tidak langsung membunuh hama-hama tersebut, tetapi mengubah fisiologi sehingga hama-hama tersebut rusak pertumbuhannya, menjadi mandul, tidak mau makan, ulat gagal bermetamorfosis, dan seterusnya sehingga hama tidak bias berkembang dan mati.
Komposisi : Neem oil, Ekstrak tanaman, Essential oil, Minyak atsiri, dan ZPT alami
Kandungan pestisida MSG 3 : Azadirachtin, Salanin, Meliantriol, Stironela, Nimbin & Nimbidin, Juvenil Hormone, antiviposisi & ovisidal, Eugenol, Minyak nabati, Minyak atsiri, Alkaloid, Alisin, Saponin, Flavonoid, ZPT alami, dan Emulsifer.
Kandungan Pesitisda MSG 3 :
1. Azadirachtin berperan sebagai ecdyson blocker atau zat yang dapat menghambat kerja hormon ecdyson, yaitu suatu hormon yang berfungsi dalam proses metamorfosa serangga. Serangga akan terganggu pada proses pergantian kulit, ataupun proses perubahan dari telur menjadi larva, atau dari larva menjadi kepompong atau dari kepompong menjadi dewasa. Biasanya kegagalan dalam proses ini seringkali mengakibatkan kematian bagi hama tanaman (Chiu, 1988).
2. Salanin berperan sebagai penurun nafsu makan (anti-feedant) yang mengakibatkan daya rusak serangga sangat menurun, walaupun serangganya sendiri belum mati. Oleh karena itu, dalam penggunaan pestisida nabati dari mimba, seringkali hamanya tidak mati seketika setelah disemprot (knock down), namun memerlukan beberapa hari untuk mati, biasanya 4-5 hari. Namun demikian, hama yang telah disemprot tersebut daya rusaknya sudah sangat menurun, karena dalam keadaan sakit (Ruskin, 1993).
3. Meliantriol berperan sebagai penghalau (repellent) yang mengakibatkan serangga hama enggan mendekati zat tersebut.
4. Nimbin dan nimbidin berperan sebagai anti mikro organisme seperti anti-virus, bakterisida, fungisida sangat bermanfaat untuk digunakan dalam mengendalikan penyakit tanaman (Ruskin, 1993).
5. Sitronela berperan untuk mengacaukan aroma penarik yang dikeluarkan tanaman inang sehingga pergerakan hama menuju tanaman inang tersebut dapat dialihkan. Senyawa Sitronela yang tidak disukai kutu-kutuan dan berbagai serangga hama lain. Senyawa sitronela yang terdapat dalam minyak atsiri bersifat racun dehidrasi. Racun tersebut merupakan racun kontak yang dapat masuk ke dalam tubuh serangga melalui kulit, celah atau lubang alami pada tubuh atau langsung mengenai mulut serangga serta dapat menyebabkan kematian larva karena kehilangan cairan terus menerus.
6. Pesitisida MSG 3 mengandung Senyawa toksik insektisida minyak biji jarak pagar mengganggu pembentukan hormon otak yang bersumber dari sel-sel neurosecretory dalam otak sehingga tidak menghasilkan ekdison. Ekdison berfungsi membantu pembentukan kutilkula baru serta enzim yang berpengaruh terhadap pengelupasan kulit. Pada stadia larva, senyawa kimia tersebut menghambat proses pengelupasan kulit sehingga waktu yang diperlukan larwa untuk berganti kulit menjadi lebih panjang, dengan demikian umur ulat menjadi lebih panjang dan pertumbuhan lambat. Fauzi (1995) dalam Yuliastuti (2010) mengemukakan, jika senyawa toksik pada minyak biji jarak pagar sudah masuk dalam tubuh maka senyawa toksik tersebut mempengaruhi metabolisme tubuh, yang mengakibatkan larva tidak melakukan kegiatan makan sehingga berpengaruh terhadap perkembangan berat pre pupa maupun pupa.
7. Pesitisda MSG 3 mengandung senyawa kimia bersifat seperti juvenil horomone, Menurut (Solsoloy dan Morallo, 1993 dalam soetopo, 2008) Juvenil hormone disekresikan oleh sepasang kelenjar kecil persis di belakang otak yaitu korpora allata, Juvenil hormone menyebabkan karakteristik larva tetap dipertahankan. Dengan konsesntrasi Juvenil hormone yang relatif tinggi, pergantian kulit yang dirangsang oleh edikson akan menghasilkan pergantian kulit yang dirangsang oleh ekdison akan menghasilkan pergantian kulit sekali lagi. Dengan demikian Juvenil hormone kerjanya adalah menghambat metamorfosis. Konsentrasi Juvenil hormone semakin berkuang, maka pergantian kulit yang diinduksi oleh ekdison baru dapat menghasilkan suatu tahapan perkembangan yang disebut pupa.
8. Pesitisida MSG 3 Mengandung antioviposisi dan ovisidal. Adebowale dan Adedire (2006) dalam Syatila (2010) menyebutkan, antioviposisi dan ovisidal dapat mengganggu alat peletakan telur (ovipositor) pada serangga, sehingga produksi telur yang dihasilkan imago betina menurun.
9. Eugenol sebagai bakterisida, fungisida, insektisida, nematisida maupun moluskisida. Eugenol adalah salah satu komponen penyusun pestisida MSG 3, dimana senyawa tersebut berperan aktif didalam menghambat pertumbuhan ulat bulu. Eugenol memiliki daya tolak (repellent) yang tinggi terhadap serangga sehingga tanaman dapat terhindar dari serangan hama.
10. Minyak nabati mengandung gliserid dan asam lemak yang bersifat racun bagi serangga. Jenis tanaman penghasil minyak sangat mempengaruhi kemampuannya sebagai insektisida. Minyak nabati tidak hanya mampu membunuh serangga dari golongan Arthropoda, tapi juga dapat bertindak sebagai repelan yang mencegah serangga dan tungau mendekati tanaman.
11. Alisin memberikan aroma yang tidak disukai hama tanaman dan berperan ganda membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif karena mempunyai gugus asam amino para amino benzoat, sedangkan scordinin berupa senyawa kompleks thioglosida yang berfungsi sebagai antioksidan.
12. Alkaloid, senyawa tersebut berfungsi sebagai perusak perkembangan telur,larva serangga, menghambat reproduksi serangga, mengacaukan sistem hormon, racun syaraf.
13. Saponin, senyawa Saponin memberikan rasa pahit yang tidak disukai hama, oleh sebab itu dapat memberikan efek hama tidak memakan tanaman yang terdapat senyawa saponin. Saponin mempunyai kemampuan untuk merusak membrane tubuh larva. Saponin dapat menyebabkan destruksi saluran pencernaan larva dengan cara menurunkan tegangan permukaan sehngga selaput mukosa saluran pencernaan menjadi korosif. Hal tersebut akan menyebabkan menurunnya aktifitas enzim pencernaan dan penyerapan makanan.
14. Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang tersebar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupaka golongan fenol dapat menyebabkan penggumpalan protein. Denaturasi protein tersebut menyebabkan permeabilitas dinding sel dalam saluran pencernaan menurun. Hal ini akan mengakibatkan transport nutrisi terganggu sehingga pertumbuhan terhambat dan akhirnya hama mati. Selain itu, flavonoid merupakan salah satu jenis senyawa yang bersifat racun bagi hama tanaman.
15. ZPT ALAMI, ZPT Allicin, Vitamin B1 (Thiamin) yang berguna untuk pertumbuhan tunas, selain itu juga mengandung zpt Auxin dan Rhizokalin yang dapat merangsang pertumbuhan akar. Thiamin dan Allicin akan membentuk ikatan allithiamin yang mudah diserap oleh sel tanaman yang akan memicu pertumbuhan tunas dan daun. Sedangkan hormon Auxin akan memacu protein tertentu yang dapat mengaktifkan enzime untuk menginisialisasi pemanjangan sel tumbuhan.
Info lebih lanjut hubungi 0822 9900 3499
Link pembelian https://bit.ly/2KUDY0a

Video Reaksi hama yang terkena Pestisida MSG 3






Previous
Next Post »